Follow Us :

Kesahihan Metode Eksperimental

25 November 2013  12:09:49 WIB

Ilustrasi

Oleh Deni Irvani*

Sinar Harapan/SHnews.co - Survei eksperimental pada dasarnya merupakan penggabungan antara metodologi survei dan eksperimental

Penetapan calon presiden belum final. Partai politik atau koalisi partai yang dapat mencalonkan adalah yang punya kekuatan suara populer 25 persen, atau kursi 20 persen di DPR pada hasil Pemilu Legislatif.

Faktor-faktor apa saja yang bisa membuat partai memenuhi syarat tersebut? Jawabannya tentu banyak faktor.

Menurut Mujani dan Liddle (2007), elektabilitas partai politik salah satunya sangat banyak dipengaruhi faktor “tokoh”.

Semakin kuat elektabilitas calon presiden dari tokoh partai, semakin kuat pula elektabilitas partai bersangkutan. Atas dasar studi itu, Joko Widodo (Jokowi), yang menurut banyak survei unggul atas tokoh-tokoh lain bila pemilihan presiden diadakan saat survei-survei dilakukan, diperkirakan punya pengaruh penting bagi partainya, PDIP, bila partai ini mencalonkannya sebagai presiden. Apakah benar demikian? Bagaimana membuktikan hipotesis itu secara empiris?

Untuk memperoleh jawaban meyakinkan atas pertanyaan ini, The Indonesian Institute (TII) dan Indikator Politik Indonesia (Indikator) bekerja sama dengan Sinar Harapan melakukan studi ilmiah melalui “Survei Opini Publik Eksperimental”. Penelitian survei ini berlangsung pada 10-20 Oktober 2013 dengan total sampel 1.200 responden.

Sampel dipilih secara acak dengan metode multistage random sampling yang mewakili populasi pemilih nasional, yakni seluruh warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah ketika survei ini dilakukan. Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara terlatih. Satu pewawancara bertugas untuk satu desa/kelurahan yang terdiri hanya dari 10 responden.

Apa dan Mengapa Survei Eksperimental?

Survei opini publik eksperimental adalah satu cara untuk mengetahui hubungan kausal antara variabel independen dan dependen dalam survei opini publik. Ini merupakan metode yang relatif baru dalam survei opini publik, dan mulai menjadi tren dalam dunia akademik internasional.

Contoh pertama dari survei eksperimental di Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan dunia akademik internasional adalah karya Pepinsky, Liddle, dan Mujani yang diterbitkan American Journal of Political Science (2012). Model survei ekperimental Pepinski, Liddle, dan Mujani itu yang digunakan untuk melihat efek Jokowi terhadap elektabilitas partai dalam survei kali ini.

Survei eksperimental pada dasarnya merupakan penggabungan antara metodologi survei dan eksperimental. Dengan metode hibrida ini, hasil penelitian memiliki dua kekuatan dahsyat, yakni hubungan kausal dapat ditetapkan (kekuatan metode eksperimental) dan kesimpulan atas pengujian kausalitas itu bisa digeneralisasi untuk seluruh populasi (kekuatan metode survei) (Gutterbock, 2010).

Dalam survei-survei biasa, hubungan kausal hanya berdasarkan asumsi. Hal ini pertama karena “sebab” dan “akibat” sulit dipisahkan. Pengaruh Jokowi terhadap elektabilitas partai politik, misalnya, tidak bisa diketahui secara meyakinkan karena dalam survei biasa sulit dibedakan, apakah elektabilitas partai disebabkan elektabilitas Jokowi atau sebaliknya. Di samping itu, survei biasa juga tidak bisa menjamin hubungan yang terjadi bukanlah hubungan palsu (spurious).

Dalam survei eksperimental, “sebab” bisa ditetapkan lewat sebuah desain eksperimental, yakni dengan memberikan treatment pada “sebab” kemudian dilihat apakah treatment itu berpengaruh berbeda pada “akibat”. Kemungkinan munculnya hubungan yang palsu antara variabel independen dan dependen dieliminasi melalui pengacakan treatment pada unit-unit eksperimen (Mutz 2011).

Pengacakan treatment pada unit-unit eksperimen merupakan kunci survei eksperimental. Sebuah survei biasa dapat menyerupai survei eksperimental dengan merancang “sebab” mendahului “akibat”. Namun, tanpa adanya pengacakan treatment, ia bukanlah survei eksperimental.

Desain Survei

Untuk mengetahui efek Jokowi terhadap partai politik, dalam survei eksperimental ini Jokowi sebagai faktor “sebab” diperlakukan secara berbeda dalam hubungannya dengan partai politik. Untuk itu, dibuat dua treatment disertai kontrol. Treatment pertama adalah “Jokowi dicalonkan sebagai presiden oleh PDIP”, treatment kedua adalah “Jokowi tidak dicalonkan sebagai presiden oleh PDIP”.

Secara lengkap, dalam survei eksperimental ini digunakan tiga pertanyaan berikut:

1. Bila pemilihan anggota DPR diadakan sekarang, partai atau calon dari partai mana yang akan Ibu/Bapak pilih dari partai-partai berikut? (non-treatment/kontrol)

2. Bila PDIP mencalonkan Jokowi sebagai presiden, partai atau calon dari partai mana yang akan Ibu/Bapak pilih dari partai-partai berikut? (treatment 1)

3.            Bila PDIP tidak mencalonkan Jokowi sebagai presiden, partai atau calon dari partai mana yang akan Ibu/Bapak pilih dari partai-partai berikut? (treatment 2)

Selanjutnya, untuk melihat efek Jokowi pada pilihan partai itu secara sistematik, sebelum terjun ke lapangan desain sampel dibuat dengan cara tertentu sesuai kaidah eksperimental. Pertama, sampel dibagi ke dalam tiga kelompok, masing-masing dipilih secara acak.

Total sampel dalam survei nasional ini 1.200 responden, jadi masing-masing kelompok terdiri dari 400 responden yang dipilih acak. Setiap kelompok ditanyakan dengan pertanyaan berbeda, pada kelompok pertama ditanyakan pertanyaan pertama (non-treatment/kontrol), pada kelompok kedua ditanyakan pertanyaan kedua (treatment 1), dan pada kelompok ketiga ditanyakan pertanyaan ketiga (treatment 2).

Hasil wawancara tentang pilihan partai dari tiga kelompok responden itu kemudian dibandingkan, apakah ada perbedaan respons secara signifikan.

Posisi pencalonan Jokowi sebagai presiden diubah-ubah (dicalonkan sebagai presiden atau tidak dicalonkan sebagai presiden oleh PDIP, atau faktor Jokowi ditiadakan), bila ada perbedaan signifikan dari treatment dan non-treatment atas Jokowi itu maka Jokowi punya efek terhadap elektabilitas partai, atau sebaliknya.

*Penulis adalah peneliti pada Indikator Politik Indonesia.

** Artikel ini telah dipublikasikan oleh harian Sinar Harapan pada tanggal 21 November 2013 | Original link: http://www.shnews.co/detile-28178-kesahihan-metode-eksperimental-.html

© indikator.co.id  |  Share : 
Quick Count
Agenda & Press Release
    Twitter Indikator