Follow Us :

Laporan Konpers Rilis Survei Indikator "Kualitas Personal dan Elektabilitas Capres"

01 Desember 2013  14:40:57 WIB

Konpers Rilis Indikator 1 Desember 2013

Pada hari Minggu, 1 Desember 2013, Indikator kembali merilis hasil survey nasional mengukur faktor yang mempengaruhi pemilih dalam menentukan pilihan dalam pemilihan presiden mendatang. Dalam konpers rilis survei yang dihadiri beberapa nara sumber seperti Indra J Piliang (Golkar), Saan Mustopa (Demokrat), dan Hasto Kristyanto (PDI-Perjuangan), Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi mempresentasikan temuan hasil survei terkait persepsi dan penilaian massa pemilih terhadap kualitas personal calon presiden. Dalam survei ini, kriteria pengukuran kualitas personal capres dibatasi pada sejumlah konsep yang sering ditemukan sangat berpengaruh: kompetensi, integritas, empati, tegas, dan wibawa.
 
Rilis survei kali ini menggunakan metode wawancara lapangan terhadap sampel 1200 responden dari populasi seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Oktober 2013 lalu. Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dalam teknik pengambilan sampel respondennya dan diperkirakan margin of error sebesar ±2.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Survei ini dilakukan berkat kerjasama dengan harian Sinar Harapan.
 
Burhanuddin Muhtadi membuka presentasi dengan hasil temuan survei nasional terkait kriteria calon presiden yang terpenting bagi responden seperti tercermin dalam grafik di bawah dimana tingkat persentase kriteria jujur/dapat dipercaya/amanah (51%) jauh meninggalkan kriteria lainnya, seperti tegas (7%), berwibawa (3%), ataupun pintar (1%) sebagai faktor terpenting bagi pemilih. 
 
 
 
Dalam presentasi survei kali ini, Burhanuddin Muhtadi juga memaparkan kecenderungan elektabilitas calon-calon presiden dengan 3 metode survei (Top of mind, semi terbuka, serta simulasi calon presiden 4 partai besar) yang hasilnya tercermin dari grafik ilustrasi berikut ini:
 
 
Dalam pertanyaan terbuka dan jawaban top of mind, Jokowi, Prabowo, Aburizal, dan Wiranto, masuk 4 besar. Jokowi mengalami lonjakan terbesar terkait tren kandidat top of mind maupun semi terbuka dengan 27 nama calon.  
 
Memasuki presentasi bagian pilihan presiden berdasarkan kualitas personal, Jokowi tampak unggul dalam segala aspek kualitas personal bagi responden survei nasional ini, kecuali dari aspek ketegasan dimana Prabowo bersama Wiranto tampak unggul di aspek tersebut. Hal ini sesuai dengan kesimpulan bahwa Jokowi unggul jauh di atas calon-calon senior seperti Prabowo, Megawati, dan Aburizal karena Jokowi diasosiasikan dengan kriteria calon presiden paling penting di mata rakyat: Jokowi orang yang bisa dipercaya/jujur (punya integritas), punya perhatian pada rakyat (empati), dan juga dinilai mampu memimpin.
 
 
 
Kriteria Capres Menurut Akses Media Massa dan Demografi
 
Survei Nasional Indikator kali ini menemukan bahwa akses pada berita di media massa berhubungan dengan pilihan pada “bisa dipercaya/jujur” sebagai kriteria paling penting bagi seorang presiden. Berita di media juga nampaknya menumbuhkan rasa tidak percaya pada elite-elite lama (Megawati, Prabowo, Aburizal), dan menumbuhkan harapan pada elite baru seperti Jokowi.
 
 
Kesimpulan lainnya yang ditemukan yakni secara demografis, tumbuhnya rasa kurang percaya pada elite lama, dan tumbuhnya kepercayaan pada elite baru cenderung terjadi terutama di masyarakat perkotaan, berumur muda (di bawah 40 tahun), berpendidikan lebih tinggi, berpenghasilan lebih baik, dan bekerja sebagai kerah putih. Hal ini ini konsisten dengan tingkat ekspos pada berita di media massa yang lebih kuat pada karakteristik demografik tersebut.
 
 
Memasuki sesi tanya jawab dan diskusi dengan para nara sumber, Indra J Piliang dari partai Golkar menjadi narsum pertama yang menanggapi hasil survei kali ini yang menempatkan Jokowi sebagai kandidat teratas dalam berbagai pengukuran kualitas personal capres yang diidamkan. Ia menyebutkan bahwa Jokowi selama ini berhasil mempersepsikan diri mampu menjaga jarak dari kepentingan partai selama menjadi Gubernur DKI Jakarta. Namun ia berargumen bahwa hal tersebut akan susah dilakukan apabila nanti ia secara resmi dicalonkan oleh PDI-P menjadi calon presiden dikarenakan masyarakat akan terbuka pikirannya melihat secara jernih bahwa Jokowi adalah bagian dari mesin partai yang tentunya akan membawa agenda suatu partai tertentu. Hasto Kristyanto dari PDI-P menanggapi bahwa munculnya Jokowi merupakan sesuatu yang patut disyukuri oleh partainya menjelang Pemilu 2014 mendatang. Ia berpendapat bahwa Jokowi lahir karena jalannya sistem pengkaderan yang dibangun Megawati selama menjadi oposisi 10 tahun terakhir. Saan Mustopa dari Partai Demokrat juga menekankan bahwa Konvensi Capres yang diadakan partainya merupakan metode yang dipakai untuk menjaring calon pemimpin baru yang berkualitas. Efektivitas konvensi yang dipertanyakan sejauh ini dibantah Saan Mustopa karena proses konvensi masih berada dalam tahapan awal. Seiring berjalannya waktu dan proses konvensi ke depan yang akan diwarnai debat dan adu gagasan di antara para kandidat, masyarakat akan semakin mengenal kualitas para capres peserta Konvensi sehingga diharapkan juga meningkatkan elektabilitas dan popularitas calon beserta partai yang belakangan memang terpuruk akibat  berbagai skandal korupsi.  
 
Rilis survei Indikator kali ini ditutup dengan kesimpulan bahwa rakyat secara nasional sudah tak percaya pada elite lama, dan nampaknya berupaya untuk melahirkan elite baru. Namun kunci desakan atas kemunculan elit baru ini baru terjadi dari sisi demand, sedangkan dari sisi suplai kepemimpinan baru dalam system politik di tanah air sekarang masih sangat tergantung dengan partai-partai politik. (KM)
 
 
Materi rilis selengkapnya dapat di unduh di sini:

»  Download File
© indikator.co.id  |  Share : 
Quick Count
Agenda & Press Release
    Twitter Indikator