Follow Us :

Laporan Konferensi Pers Indikator | Efek Jokowi terhadap Elektabilitas Partai dan Simulasi Survei Capres Potensial 2014

21 November 2013  22:27:54 WIB

Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator, mempresentasikan hasil survei efek Jokowi

Indikator.co.id - Dalam konferensi pers yang diadakan Kamis, 21 November 2013 di kantor Indikator Politik Indonesia dengan tema "Jokowi's effect terhadap Elektabilitas Partai-partai dalam Pemilu 2014," Burhanuddin Muhtadi (Direktur Eksekutif Indikator) dan Adinda Tenriangke Muchtar (Direktur Program TII) mempresentasikan hasil rilis survei Indikator terbaru membahas seberapa signifikan efek pencalonan Jokowi terhadap elektabilitas partai-partai peserta Pemilu 2014 mendatang.

Pengujian efek Jokowi dengan metode baru yakni "survei opini publik eksperimental" berusaha menjawab pertanyaan mendasar terkait kencangnya momentum pencapresan Jokowi akhir-akhir ini meski hal tersebut masih sangat bergantung pada keputusan Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri. Hingga saat ini, Megawati tampak masih menunggu serta menimbang strategi elektoral yang akan dimainkan untuk Pemilu 2014 meskipun ia berada di tengah desakan kencang pihak internal maupun oleh eksternal masyarakat luas untuk segera mengambil keputusan apakah Jokowi akan direstui sebagai capres dari partai moncong putih tersebut.

Dalam presentasi Burhanuddin Muhtadi, dari hasil survei yang diadakan 10-20 Oktober lalu yang disebar ke 1200 responden di seluruh Indonesia, di mana masing-masing kelompok yang berjumlah 400 responden diberikan treatment pertanyaan berbeda, dapat dikonfirmasikan bahwa Jokowi memberikan efek yang sangat signifikan terhadap elektabilitas PDI-P serta mempengaruhi secara cukup signifikan suara-suara partai-partai besar lainnya seperti tercermin di grafik-grafik berikut di bawah. 

 

Survei Simulasi Elektabilitas Capres-capres Potensial di 2014

Selain presentasi membahas tema efek Jokowi terhadap elektabilitas PDIP dan partai-partai dalam Pemilu 2014, dalam Konferensi Pers Indikator ini Burhanudin Muhtadi juga membahas hasil survei terkait kecenderungan elektabilitas tokoh-tokoh nasional yang potensial menjadi capres di 2014 mendatang. 

Simulasi pencapresan yang paling memungkinkan dengan menggunakan 4 nama calon dipilih dikarenakan adanya UU yang mengharuskan capres dicalonkan oleh 25% popular vote atau 20% kursidi DPR sehingga hampir dipastikan calon presiden maksimal hanya 4 kandidat, atau bahkan hanya ada 3 seperti dalam pilpres 2009 yang menggunakan UU yang sama. Nama-nama yang selama ini berkuasa di partai serta berpeluang masuk 3 besar menurut hasil berbagai survei dimasukkan ke dalam simulasi survei ini, dengan mengakomodasi Dahlan Iskan sebagai peserta Konvensi Demokrat terkuat menurut beberapa hasil survei sejauh ini. Hasil simulasi 4 calon tersebut terekam di grafik berikut di bawah.

 

Untuk mengantisipasi Jokowi tidak jadi dicalonkan oleh PDI-P, maka simulasi capres potensial juga diadakan dengan memasukkan nama Megawati sebagai kandidat capres di 2014 melawan Prabowo dan Aburizal Bakrie. Terlihat bahwa Prabowo dan Aburizal lebih unggul daripada Megawati apabila PDI-P tidak mencalonkan Jokowi sebagai capres partai tersebut. 

 

Dalam bagian akhir presentasi di konferensi pers rilis survei Indikator terbaru ini, juga ditampilkan hasil survei terkait kriteria capres idaman oleh para responden. Hasilnya menunjukkan bahwa kriteria capres yang "jujur/bisa dipercaya/amanah" menjadi kriteria utama jauh meninggalkan kriteria-kriteria lainnya seperti "tegas", "berwibawa", ataupun "pintar." 

 

Faktor "Kingmaker" 2014

Burhanuddin Muhtadi dalam presentasinya menyebutkan sedikitnya tiga faktor utama yang menyebabkan meroketnya elektabilitas Jokowi saat ini, antara lain dikarenakan Jokowi adalah tokoh paling disukai, paling sering diekspos oleh media, serta dipersepsikan sebagai tokoh dengan kualitas yang paling mendekati kriteria pemimpin yang diinginkan pemilih pada umumnya. 

Dalam sesi tanya jawab di akhir acara, menjawab pertanyaan wartawan terkait alasan Megawati terkesan mengulur waktu dalam membuat keputusan memajukan Jokowi sebagai capres PDI-P, Burhanuddin Muhtadi menyebutkan tiga analisa yang dapat dikembangkan saat ini. Pertama, Megawati sangat menikmati "drama politik" dan fokus perhatian media yang mendapuknya sebagai "Kingmaker" Pemilu 2014 mendatang sebagi bukti bahwa ia masih merupakan sosok yang relevan dalam panggung politik tanah air. Kedua, Megawati ingin melindungi Jokowi dari serangan awal lawan politik menjelang 2014. Analisa ketiga, Megawati masih harus menimbang-nimbang dinamika internal PDI-P terkait keberlangsungan trah Soekarno di dalam partai tersebut. Sebagai penutup diskusi, Burhanuddin Muhtadi menyebutkan "Megawati tidak memilikii kemewahan waktu dalam mengumumkan kepastian terkait pencapresan Jokowi untuk mengangkat suara PDIP dalam pileg 2014." (KM)

=============================================================================

Bagi anda yang berminat, materi press release lengkap dari laporan Konferensi Pers Rilis Survei Indikator ini dapat diunduh di link berikut:

»  Download File
© indikator.co.id  |  Share : 
Quick Count
Agenda & Press Release
    Twitter Indikator