Follow Us :

Sedikit Liberal, Cenderung Konservatif: Sekelumit Gambaran Pemuda Muslim Indonesia

11 Oktober 2013  12:47:33 WIB

Pandangan dan gaya hidup anak muda Indonesia

Disusun oleh Rizka Halida, Peneliti Indikator

Anak muda sering dipandang berkarakter bebas, berontak terhadap aturan, dan menyukai nilai-nilai liberal ketimbang konservatif. Benarkah demikian? Hasil survei kami bersama FNS pada 2010 lalu menunjukkan pola yang berbeda dari pandangan tersebut. Anak muda, khususnya yang berlatar belakang muslim di Indonesia ternyata cenderung konservatif dalam beberapa hal, misalnya minum minuman keras dan jilbab. Namun, mereka cenderung liberal dalam perkara poligami.

Temuan Survei

Mayoritas anak muda “tidak setuju” dengan pernyataan “boleh saja sesekali minum-minuman keras asalkan tidak sampai mabuk”, ada 85%. Kondisi ini terjadi baik di perkotaan maupun pedesaan. (Grafik 1 di atas). Artinya, meskipun tidak sampai mabuk dan hanya dilakukan sekali-sekali, namun mayoritas anak muda tidak setuju dengan perilaku tersebut. Anak muda di wilayah perkotaan yang biasanya dianggap lebih bebas ternyata tidak berbeda dengan rekan mereka di pedesaan dalam hal ini.

 

Selanjutnya dalam hal berpakaian. Ada 84% anak muda perempuan yang menjawab “ya, keberatan” ketika ditanya “apakah saudari keberatan jika sesekali memakai bikini atau tank top (baju yang terbuka bagian punggungnya) di luar rumah?” (Grafik 2). Bagi anak muda laki-laki, mereka umumnya juga keberatan jika pacar atau istri mereka memakai bikini atau tank top di luar rumah (Grafik 3). Pola yang sama terjadi di perkotaan dan pedesaan.

Masih soal cara berpakaian, namun khusus tentang jilbab. Paling banyak (38%) yang berpendapat bahwa jilbab wajib dikenakan perempuan. Sedangkan yang menganggap bahwa jilbab itu merupakan pilihan untuk dipakai atau tidak oleh perempuan ternyata lebih sedikit, hanya 21%. Namun, dalam hal ini ada perbedaan antara anak muda perkotaan dan pedesaan. Jilbab sebagai kewajiban perempuan lebih kental disuarakan di pedesaan, sedangkan jilbab sebagai pilihan lebih kuat disuarakan di perkotaan (Grafik 4).

Meski cenderung konservatif dalam soal-soal di atas, akan tetapi anak muda muslim Indonesia cenderung liberal dalam menilai poligami. Mayoritas (86%) responden “tidak setuju” dengan pernyataan “boleh saja punya isteri lebih dari satu (poligami)”. Ada sedikit perbedaan di perkotaan dan pedesaan. Ketidaksetujuan responden perkotaan terhadap poligami lebih kuat dibandingkan responden pedesaan (Grafik 5).

Dengan demikian, anak  muda Indonesia khususnya yang muslim ternyata tidak sebebas, sepemberontak, dan seliberal yang disangkakan selama ini. Untuk hal-hal tertentu seperti minum minuman keras dan berpakaian, mereka cenderung konservatif dan taat aturan. Namun, dalam hal poligami, mereka sudah berpandangan liberal atau tidak setuju dengan praktik warisan budaya feodal dan patriarki tersebut.

*Metodologi Survei:

Survei nasional yang dilakukan pada 18-26 November 2010 ini merupakan survei yang secara khusus bertujuan mencermati perilaku anak muda Indonesia. Survei ini didanai oleh The Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNS).  Populasi survei ini adalah warga negara Indonesia berusia 15 sampai 25 tahun. Sebanyak 1.496 responden diwawancarai tatap muka oleh pewawancara terlatih dan terdistribusi secara proporsional di 33 provinsi. Penentuan sampel dilakukan dengan cara multistage random sampling dengan margin of error +/-2,6% pada derajat kepercayaan 95%. Dari total sampel, sebanyak 88,9% responden beragama Islam. 

»  Download File
© indikator.co.id  |  Share : 
Quick Count
Agenda & Press Release
    Twitter Indikator